Pentingnya Mental Health Bagi Generasi Z
Assalamu’alaikum Wr.Wb., Shalom
Aleichem, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, dan Salam Kebajikan.
Halo semuanya! Kembali lagi bersama saya, Yerobal Gustaf Sekeon, biasa dipanggil Yero, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Program Studi Teknologi Informasi pada tahun 2020, Cluster 8. Pada artikel ini saya akan membahas mengenai alasan pentingnya mental health bagi generasi Z serta dampak dari penyakit mental health.
Kesehatan individu bukan hanya ditinjau dari aspek fisik, aspek kesehatan mental juga penting. Seseorang bisa saja berbadan bagus, berpenampilan baik, dan memiliki banyak teman. Tetapi ia belum tentu mempunyai kesehatan mental yang baik. Menurut WHO (World Health Organisation), seseorang dapat dikatakan sehat secara mental jika ia dapat sadar akan kemampuannya, dapat mengatasi stres dalam hidupnya sehari-hari, dapat berkontribusi untuk sekitarnya, serta dapat bekerja dengan produktif.
Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, maka orang itu dapat mengalami gangguan suasana hati, penurunan kemampuan berpikir, serta bertindak dengan perilaku yang tidak baik. Hasil survei yang dilakukan oleh WHO memperlihatkan bahwa setiap detik terdapat satu orang yang bunuh diri di seluruh dunia. Bahkan, bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada umur 15-29 tahun. Di Indonesia, masih banyak masyarakat yang tak acuh tentang masalah mental health ini. Hal ini menyebabkan banyak penderita mental health yang takut menceritakan gangguan mental yang dialaminya.
Gangguan mental bisa berdampak
pada emosional, kehidupan sosial, ataupun psikologis. Hal ini dapat berpengaruh
kepada seseorang cara berpikir, perasaan, dan Tindakan seseorang. Dan juga
bagaimana orang mengatasi stres, membuat keputusan, dan berkomunikasi dengan
orang lain.
Menurut Taylor & Keeter (2010), yang termasuk generasi Z adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1993-2005. Berdasarkan penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda dengan rentang usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia yang memiliki kondisi kesehatan mental paling buruk dibandingkan dengan generasi-generasi terdahulu. Hasil penelitan APA menunjukkan bahwa sebanyak 91% generasi Z mempunyai gejala-gejala emosional maupun fisik yang berhubungan dengan stres, depresi dan gangguan kecemasan. Stres adalah faktor terbesar penyebab buruknya kesehatan mental generasi Z.
Banyak hal yang menyebabkan
generasi Z menjadi stres. Meningkatnya angka bunuh diri, meningkatnya laporan
terhadap kasus pelecehan seksual, hingga perubahan iklim adalah faktor pemicu stres generasi Z. Masalah tersebut
bisa menjadi persoalan sendiri bagi
generasi Z akibat globalisasi yang menyebabkan tak terbatasnya
aksesibilitas informasi bagi generasi Z. Generasi Z tinggal di era globalisasi,
dimana mereka bisa dengan memahami dan menguasi teknologi pada usia muda. Jadi berinteraksi
di dunia yang terkoneksi tanpa batas wakru adalah hal yang sangat biasa untuk
generasi Z.
Kenyataannya, generasi Z memanfaatkan
dunia maya sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Hal ini membuat
kesehatan mental generasi Z menjadi sangat buruk. Banyak generasi Z yang
kecanduan sosial meda dan gim mengakibatkan kondisi psikologis generasi Z
menjadi terganggu. Banyak generasi Z juga kecanduan dengan permainan gim,
permainan gim berbasis gawai dan internet menjadi hiburan banyak orang.
Padahal, menurut Weinstein (2010), kecanduan gim bisa menyebabkan ketidak
sanggupan untuk mengatur rasa gelisah, frustasi, dan takut. Serta menurunnya
nilai akademik. Selain itu, bermain video gim secara berlebihan, disampaikan
Van Rooij, Meerkerk, Schoenmakers, Griffiths, & Van De Mheen (2010) juga dapat
berdampak pada menurunnya kemampuan problem solving untuk menyelesaikan
masalah dalam memenuhi cinta, pekerjaan, dan persahabatan.
Di nusantara, data hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, digabungkan dengan Data Rutin dari
Pusdatin, gangguan mental emosional yang ditunjukan dengan gejala-gejala
depresi dan kecemasan sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14
juta orang. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia,
adalah 1,7 per 1.000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.
Salah satu dampak globalisasi dan
perkembangan sosial media adalah tingginya angka kasus gangguan kesehatan
mental terutama berkaitan dengan kecanduan bermain gawai. Penelitian yang
berjudul “A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental
Health in Indonesia” dalam International Journal of Mental Health and
Addiction mengatakan bahwa kecanduan media sosial berbahaya bagi kesehatan
mental karena dapat menyebabkan depresi.
Ada beberapa cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasu
dan mengobati orang yang memiliki masalah mental health di Indonesia,
salah satunya adalah pembangunan fasilitas kesehatan. Pada akhir 2019,
pemerintah menargetkan sebanyak kurang lebih 10,000 puskesmas untuk mengimplementasikan
program Indonesia sehat yang mencakup pelayanan kesehatan mental. Menurut Prof.
Dr. Sofia Retnowati, M.S, tujuan dari pelayanan kesehatan mental di Puskesmas
yaitu untuk mengatasi permasalahan treatment gap yang masih belum
mencukupi dan tidak efektifnya penggunaan sumber daya yang ada, serta
penyebarannya yang masih belum merata. Hal ini juga didukung oleh data pada
tahun 2018 bahwa sangat sedikitnya jumlah orang yang professional di bidang
kesehatan jiwa dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada di Indonesia.
Jumlah psikiater yang terdaftar pada tahun 2018 hanya 773 orang, dan psikolog
klinis hanya 451 orang. Sedangkan populasi Indonesia sudah mencapai 260 juta
jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, seharusnya Indonesia mempunyai kurang
lebih 7.500 tenaga medis untuk kesehatan mental dalam memberikan layanan psikiatrik untuk bangsa Indonesia.
Melihat tingginya kasus di atas, maka permasalahan kesehatan mental tidak bisa dianggap sebelah mata. Kita sebagai mahasiswa yang baik juga dapat memberikan partisipasi langsung dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan sosial media untuk membuat kampanye mengenai pentingnya mental health bagi generasi z. Di era revolusi industri 4.0 ini, sosial media merupakan media yang paling efektif untuk mejangkau seluruh lapisan masyarakat karena praktis dan cepat. Sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa yang baik untuk membantu negeri ini semampu kita, sehingga akan menghasilkan generasi yang lebih baik.
Demikianlah essay mengenai Pentingnya mental health ini, apabila ada kesalahan kata dan penulisan, saya meminta maaf. Terima kasih atas perhatian kalian.
Referensi & Sumber:
- fk.ugm.ac.id
- tirto.id
- www.sehatq.com
- muda.kompas.id

Komentar
Posting Komentar